“Kepemimpinan Perempuan dalam TPQ Nurul Karomah, Umbulsari Jember: Agama sebagai Infrastruktur Budaya dan Arena Negosiasi Gender”
Abstrak Artikel ini menganalisis kepemimpinan perempuan di TPQ Nurul Karomah, Desa Umbulsari, Jember, sebagai fenomena transformasi otoritas agama dalam konteks budaya lokal. Dengan kerangka “agama sebagai infrastruktur budaya” dan pendekatan interseksional, penelitian ini menunjukkan bagaimana kepemimpinan perempuan menegosiasikan otoritas agama, membangun legitimasi sosial, dan menciptakan ruang pendidikan ramah anak dan gender. Kasus ini diposisikan sebagai laboratorium konseptual untuk memahami agama sebagai arena negosiasi identitas dalam era post-ekspertise.
Abstrak Fenomena kepemimpinan perempuan dalam lembaga pendidikan agama berbasis komunitas semakin menonjol di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di TPQ Nurul Karomah, Desa Umbulsari, Jember. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kepemimpinan perempuan dalam TPQ sebagai bentuk transformasi otoritas agama sekaligus arena negosiasi budaya. TPQ dipahami bukan hanya sebagai institusi pengajaran Al-Qur’an, tetapi juga sebagai infrastruktur budaya yang membentuk identitas anak, memperkuat solidaritas sosial, dan mengatur regulasi informal dalam masyarakat.
Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini menggali pengalaman dan strategi kepemimpinan perempuan di TPQ Nurul Karomah melalui observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Analisis dilakukan dengan kerangka interseksionalitas dan konsep agama sebagai infrastruktur budaya, serta dikaitkan dengan paradigma post-ekspertise yang menekankan pergeseran otoritas agama dari dominasi ulama atau akademisi menuju negosiasi kolektif berbasis komunitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan di TPQ Nurul Karomah berhasil membangun legitimasi sosial melalui kombinasi otoritas moral, kedekatan dengan anak-anak, serta kemampuan mengelola dinamika budaya patriarkal. Perempuan pemimpin TPQ tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pengatur solidaritas komunitas, mediator konflik, dan agen transformasi budaya. Kasus ini memperlihatkan bahwa TPQ dapat menjadi laboratorium budaya yang ramah anak dan gender, sekaligus ruang di mana agama berfungsi sebagai arena negosiasi identitas sosial.
Artikel ini berkontribusi pada pengembangan teori agama sebagai infrastruktur budaya dengan menekankan dimensi gender dan pendidikan komunitas. Secara praktis, penelitian ini menawarkan model pemberdayaan perempuan dalam kepemimpinan lembaga pendidikan agama lokal, yang relevan untuk memperkuat inklusivitas dan legitimasi sosial di era kontemporer.
Pendahuluan
- Fenomena kepemimpinan perempuan di TPQ Nurul Karomah.
- TPQ sebagai ruang pendidikan agama sekaligus arena budaya.
- Rumusan masalah: bagaimana kepemimpinan perempuan membentuk otoritas agama dan budaya.
- Tujuan: mengembangkan kerangka konseptual baru berbasis kasus lokal.
Kerangka Teori
- Agama sebagai infrastruktur budaya (fungsi regulasi sosial, solidaritas, legitimasi).
- Gender dan interseksionalitas dalam kepemimpinan agama.
- Post-ekspertise: otoritas agama yang dinegosiasikan secara kolektif.
Metodologi
- Studi kasus kualitatif.
- Lokasi: TPQ Nurul Karomah, Umbulsari, Jember.
- Teknik: observasi, wawancara, analisis dokumen.
- Analisis: interseksional + analisis budaya.
Hasil dan Analisis
- Profil TPQ Nurul Karomah: sejarah, struktur, peran komunitas.
- Kepemimpinan perempuan: strategi legitimasi, resistensi terhadap patriarki.
- Negosiasi otoritas agama: interaksi dengan anak-anak, masyarakat, dan struktur sosial.
- Transformasi budaya: TPQ sebagai ruang ramah anak dan gender.
Diskusi
- Implikasi teoretis: agama sebagai arena negosiasi gender.
- Implikasi metodologis: studi kasus lokal sebagai laboratorium konseptual.
- Implikasi praktis: model pemberdayaan perempuan dalam pendidikan agama komunitas.
Kesimpulan
- Kepemimpinan perempuan di TPQ Nurul Karomah menunjukkan transformasi otoritas agama di tingkat lokal.
- Kontribusi: memperkuat kerangka agama sebagai infrastruktur budaya.
- Rekomendasi: penguatan peran perempuan dalam lembaga pendidikan agama berbasis komunitas.
Source: SakanaAI/AI-Scientist-v2